Senin, 17 Oktober 2011


Fatwa Cinta Ibnu ‘Athaillah
Tiga tahun yang lalu…
Tidididit… Tidididit… Tidididit… Tidididit… Tidididit…
            Jam alarm terus berbunyi tanpa henti. Kulihat, pukul tiga. Di luar, hujan turun dengan lebat. Cahaya kilat disusul gelegar petir mengurungkan niat, membuyarkan tekad yang belum sempat bulat sempurna untuk sekedar menyingkap selimut tebal, turun dari tempat tidur, mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat malam. Yang ada, selimut semakin membalut, menutup rapat seluruh bagian tubuh dari ujung kaki sampai ujung kepala.
            Tidididit… Tidididit… Tidididit… tidd!
            Alarm masih berbunyi, tapi tak kubiarkan terus berbunyi. Trek, aku matikan. Kutenggelamkan kembali tangan dan kepalaku yang sempat keluar, ke dalam selimut tebal. Aku kembali terlelap.
            Kring… kring…
            Tak selang berapa lama, sebuah suara kembali membangunkan tidurku. Tapi kali ini bunyinya berbeda. Bukan bunyi tidididit tanpa henti, tapi hanya kring dua kali. Kring dua kali, itu adalah nada dering handphone-ku pertanda SMS masuk. Kuraih handphone-ku yang disimpan di atas meja tepat di samping kiri tempat tidurku.
            Dengan mata yang belum terbuka sempurna, tuts kiri atas handphone, kupijit dengan tangan kananku. Dan… bagaikan tersengat aliran listrik 240 volt, mataku terbelalak, selimutku tersingkap, posisiku duduk, aku terkejut. SMS kubaca sekali lagi. Huruf demi huruf, kata demi klata, kalimat demi kalimat, kubaca tanpa terlewat. Isinya tetap saama, tidak berubah.
Assalamualaikum…
Akhi gmn pndpt antum klo ana melamar Aina hari ini?
Syukron…!
            Membaca SMS itu, hatiku hancur. Tak peduli hujan, tak peduli kilat, tak peduli petir, tak peduli semuanya. Tak peduli ngantuk, tak peduli dingin, dan sebagainya. Aku keluar kamar, mengambil air wudlu. Aku ingin segera mengadu.
            Ya Rabbi… hanya kepada-Mu lah aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan. Duhai Dzat pencipta cinta, tunjukkan lah aku ke jalan yang lurus.
            Delapan rakaat tahjud, plus tiga rakaat witir selesai aku kerjakan. Ketika bermunajat, pikiranku terbang, melayang ke masa lalu, tepatnya satu tahun yang lalu.
───☼    ☼───
            Kring… kring…
            “SMS dari siapa, akhi? Kok bacanya senyum-senyum seperti itu?”
            “Ah nggak, Cuma SMS biasa saja. SMS dari teman.”
            “Teman, apa teman?”
            “Teman.”
“ Ha…ha…ha…” kami berdua tertawa.
            Kring… kring…
            “Tuh kan, SMS lagi. Dari siapa sih? jadi penasaran. Coba lihat.”
            SMS belum sempat kubuka, secepat kilat, hp diambil paksa.
            “Emmmh… pantas saja dari tadi senyum-senyum terus, ternyata lagi SMS-an sama akhwat. Ini, belum dibaca kok. Ana gak berhak.” Belum sempat membuka SMS-nya, ia memberikan lagi handphoneku.
            Alhamdulillah ya kak, kita bisa sekampus.
            Ain seneng banget bisa sekampus sama kakak.
            Syukron ya, kak, udah bantu Ain masuk kampus ini.
            “ Siapapa dia? Pacar antum ya?”
“Husss, Jangan sembarangan! Dia teman satu daerah ana.”
            “Oh, begitu? SMS apa dia?”
            “Nih.” Aku memberikan SMS Aina.
            “Emmmh… jadi teman antum itu sekampus juga ya dengan kita? Jurusan apa?”
            “Tafsir Hadis.”
            Masya Allah… sejurusan dong sama ana? Ana kan jurusan Tafsir Hadis juga.”
            “Ia, sejurusan sama antum. Awas ya, nitip. Jangan diapa-apain!”
            “Ha…ha…ha…” kami berdua tertawa lagi.
───☼    ☼───
            Mengingat itu semua, hatiku ingin berontak, tapi apa daya aku tak kuasa. Kenangan awal masuk kuliah mulai meneror batinku. Walhasil, hatiku, jiwaku, dan perasaanku terteror. Otakku, akalku dan pikiranku terteror. Semuanya terteror. Dan pelaku teror semua itu tak lain dan tak bukan adalah temanku sendiri: Akhid, namanya. Aku terteror SMS Akhid. Akhid menjelma menjadi teroris cintaku.
            Waktu awal masuk kuliah, Akhid adalah satu dari tiga sahabat baru terbaikku. Layaknya sahabat, aku selalu berbagi dengannya. Berbagi kisah, berbagi cerita.
            Masih terpatri dalam hati, tercatat dalam ingatan ketika Akhid bercerita bahwa tak lama lagi dia akan melamar calon isteri pilihan ibunya. Karena memang, secara finansial, dia telah siap untuk menikah.
            Tak mau kalah, aku pun bercerita tentang pujaan hatiku: Aina. Akhid ikut bahagia dan setengah tak percaya kalau Aina adalah teman kecilku yang sama-sama denganku menaruh cinta terpendam selama bertahun-tahun yang tak pernah terungkapkan. Sampai akhirnya kami mengetahui perasaan masing-masing, meski tak diungkapkan dengan pacaran seperti orang-orang kebanyakan. “Mungkin tiga atau empat tahun lagi, setelah lulus kuliah, aku akan melamarnya.” Ceritaku pada Akhid.
───☼    ☼───
            Kubaca SMS sekali lagi. Tiba-tiba, tanpa disengaja, dengan konektifitas saraf otak yang luar biasa, aku teringat surat Aina. Surat yang Aina berikan dua minggu yang lalu.
            “Mungkin saja SMS Akhid ada hubungannya dengan surat dari Aina. Tapi, apakah mungkin Akhid orang yang dimaksud Aina dalam surat itu?” prediksiku berspekulasi.

Assalamualaikum....
Bismillaah...
Guru cinta, yang sekali pun tak pernah menodai cinta, apalagi mengkhianati cinta, yang menjadi kekasih Dzat pencipta cinta, Rasulullah Saw., pernah bersabda: Tujuh golongan yang oleh Allah akan diberi perlindungan ketika tak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. Salah satu dari tujuh golongan itu adalah dua hamba Allah yang saling mencintai di jalan Allah. Berekumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah.
Kak, sebelumnya Aina minta maaf, kalau kedatangan surat ini menyakiti hati kakak. Tapi apa boleh buat, Aina tak berdaya. Aina hanyalah seorang wanita lemah yang mencoba untuk kuat, tapi tetap lemah. Aina yakin, Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk kita berdua.
Kak, masih ingat komitmen kita? Setelah lulus kuliah nanti, kakak akan melamar Aina. Sungguh, Aina terharu. Aina seakan telah menggapai mimpi yang Aina damba. Aina sangat bahagia. Tapi inilah Aiana. Seorang wanita lemah yang mencoba untuk kuat, tapi tetap lemah.
Kemarin, Ayah menelepon. Katanya ada yang mau ta’aruf dengan Aina. Kalau cocok, akan mengkhitbah Aina. Aina tak tahu siapa orangnya. Tapi kata Ayah, dia anak teman Ayah. Dia juga katanya kuliah di kampus yang sama dengan kita. Jurusan Tafsir Hadis, satu jurusan dengan Aina.
Aina tak punya pilihan, kecuali laki-laki pilihan hati Aina, menemui orang tua Aina untuk mengkhitbah Aina. Seperti itulah pilihan yang diberikan Ayah. Ayah sudah tua. Sudah saatnya Ayah mencari pengganti yang akan meneruskan perjunagan menegakkan kalimah Allah, melanjutkan memimpin pesantren.
Aina mengirim surat ini pada kakak, dengan harapan kakak bisa  mengerti perasaan Aina.

Wassalam,
Wanita lemah yang mencoba untuk kuat, tapi tetap lemah

Aina Nurul Agnia
NB: Ta’aruf masih seminggu lagi. Kalau cocok, dilanjutkan dengan khitbah minggu berikutnya. Mengambil kesempatan, atau mempersilakan?

“Assalamualaikum…
Akhi gmn pndpt antum klo ana melamar Aina hari ini?
Syukron…!
“Aina tak tahu siapa orangnya. Tapi kata Abi, dia anak teman Abi. Dia juga katanya kuliah di kampus yang sama dengan kita. Jurusan Kependidikan Islam, satu jurusan dengan Aina.”
SMS dari Akhid dan surat dari Aina silih berganti berkelebat di pikiranku. Aku berpikir sejenak. Dua minggu yang lalu, dengan suratnya, Aina memberi tahu ada yang mau ta’aruf dengannya. Pagi ini, jam tiga, dengan SMS-nya Akhid memberi tahu bahwa ia akan melamar Aina.
“Ta’aruf masih seminggu lagi. Kalau cocok, dilanjutkan dengan khitbah minggu berikutnya. Mengambil kesempatan, atau mempersilakan?” Kalimat akhir pada surat Aina.
Dari surat ke ta’aruf, satu minggu. Ditambah dari ta’aruf ke khitbah, satu minggu. Jadi dua minggu. Dua minggu dari surat, berarti hari ini. Ya, hari ini. Hari ini Akhid akan mengkhitbah Aina. Akhid akan melamar Aina
Yaa... Rabbi... apa yang harus hamba-Mu ini lakukan?
───☼    ☼───
Pagi harinya, untuk sekedar memastikan, setelah shalat shubuh, tepatnya jam lima lewat sepuluh, aku menelepon Aina.
Kuambil handphone yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Kuaktifkan kunci tombol, kucari nomor bertuliskan Habibi[1] Nurul Agnia. Setelah ketemu, kutekan tombol “ok”, lalu panggil. Tak lama berselang…
            Assalamualaikum... suara lembut dari sebrang sana. Tanpa sadar, hatiku berdesir. Kujawab,
            Wa’alaikumussalam. Ini… ini dengan Dik Aina, ya?” tanyaku basa-basi.
            Ia. Ada apa, kak?”
            Ah nggak” jawabku tergugup. Cuma mau bertanya. Kalau benar, sekalian member selamat.” Sambungku yang sudah mulai menguasai keadaan.
            Maksud Kakak?” Tanya Aina sedikit bingung, tidak mengerti.
            Apa benar, hari ini Dik Aina akan dilamar?” tanpa basa-basi ini itu, aku langsung ke pokok permasalahan.
            Sesaat lamanya, tak ada suara. Hening, tanpa kata, diam seribu bahasa. Tiba-tiba, dengan suara teisak dan sedikit serak, Aina berkata:
            I…ia, Kak.”
            Bagaikan mendengar petir di siang bolong, aku tersentak kaget. “Akhid…!” pekikku dalam hati. Tapi akuy segera tersadar. Dilihat dari segi apa pun, Akhid jauh lebih siap dibandingkan denganku yang masih butuh dua sampai tiga tahun lagi untuk siap. Dengan ketegaran yang ditegar-tegarkan, mau tak mau, ucapan selamat harus kuucapkan.
            Selamat ya, Dik. Semoga bahagia.”
            Dengan suara terisak serak diiringi tangisan menyayat hati, Aina berkata:
            Maafkan Aina, Kak. Aina tak bisa memegang komitmen yang telah kita sepakati bersama. Aina telah berusaha. Tapi inilah Aina. Wanita lemah yang mencoba untuk kuat, tapi tetap lemah.“
            Sudahlah, Dik! Yang penting, Dik Aina bahagia. Apa pun yang membuat Dik Aina bahagia, selagi mampu, insya Allah akan Kakak lakukan. Adik juga pasti masih ingat perkataan Syaikh Ibnu ‚Athaillah Assakandary waktu kita masih nyantri pada Kiai Hamdi. Syaikh Ibnu ‚Athaillah dalam kitab Al-Hikamnya mengatakan: ‘Laisal muhib alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta sejati namanya kalau ia mengharapkan imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya. Pencinta sejati adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan memperoleh sesuatau darinya.
            Ia, Kak. Terimakasih. Semoga Allah mewmberikan yang terbaik untuk kita. Dan, jika Aina adalah bagian dari tulang rusuk kiri Kakak yang hilang, pasti kita akan bersatu. Karena kalau jodoh, tak akan ke mana. Mari kita serahkan semuanya pada Allah. Sungguh, tak ada tempat berserah diri selain kepada Allah. ”
            Kata-kata yang diucapkan Aina, bagai penyejuk bagi luka yang menganaga. Tapi ntetap, air mataku meleleh. Aku tak ingin menangis, tapi aku tak bisa membendung air mataku. Kata-katanya sungguh menyentuh hati dan segenap relung-relung jiwaku.
            Assalamualaikum. Aku mengakhiri pembicaraan. Tanpa menunggu jawaban salam dari Aina, klik, telepon aku matikan.
───☼    ☼───
            Pagi ini, sungguh cerah. Aku merasa, dari ufuk timur, dengan cahayanya, mentari pagi seolah tak hanya mengucapkan selamat pagi, tapi selamat yang lain. Dari ranting-ranting pohon, dengan kicauannya, burung-burung seolah tak hanya mengucapkan selamat pagi, tapi selamat yang lain. Dari peredarannya, dengan hembusannya, udara pagi yang sejuk seolah tak hanya mengucapkan selamat pagi, tapi selamat yang lain.
            Ya, selamat pagi dan selamat wisuda!
            Hari ini, aku akan diwisuda. Tak lama lagi, sarjana agama bertambah anggota: aku dan teman-teman seangkatanku. Gina, Fitri, Rina, Citra dan yang lainnya. Angga, Yahya, Aina serta Akhid dan teman-teman seangkatan lainnya.
            Aina... Ooh... Aina. Kenapa setiap kali aku teringat namamu, hatiku bergetar begitu hebat? Cinta. Ya, cinta. Apa lagi namanya kalau bukan cinta?
            Akhid... Owh... Akhid. Kenapa setiap kali aku teringat namamu, hatiku bergemuruh begitu hebat?
            Laisal muhib alladzii yarjuu min mahbuubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta sejati namanya kalau ia mengharapkan imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya. Pencinta sejati adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan memperoleh sesuatau darinya.”
            Kata-kata hikmah Syaikh Ibnu ‚Athaillah yang aku ucapkan pada Aina tiga tahun yang lalu, tiba-tiba terngiang di telingaku. Ya, tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku tak pernah menghubunginya lagi.
            Pagi ini, setelah tiga tahun tak ada kabar tentang Aina, aku tak kuasa untuk menahan tanganku untuk mengambil handphone dan mengaktifkan kunci tombol. Setelah aktif, kucari nomor bertuliskan Aina Nurul Agnia―Bukan Habibi Nurul Agnia, seperti dulu― setelah ketemu, kutekan tombol ok, lalu panggil.
            Assalamu’alaikum Nona Sarjana...!“ aku mengawali pembicaraan di telepon, dengan sedikit gurauan.
            Wa’alaikumussalam. Ah, Kakak. Biasa aja!” oh ia, apa kabar?
            Alhamdulillah, sehat. Bagaimana sudah siap untuk acara wisuda?”
            sudah, Kak. Ini juga baru mau berangkat. Kakak sendiri sudah siap?”
kakak juga sudah siap. Tapi tidak sesiap Dik Aina, pastinya.”
            Maksud Kakak? ”
            Kakak belum ada PW, alias Pendamping Wisuda, he...“ jawabku melucu, ringan, tanpa beban. „Kalau Akhid bagaimana? Mau berangkat bareng nggak?” aku bercanda di balik rasa ingin tahuku tentang hubungan mereka.
            Hus...! Kakak ini bicara apa? Nggak boleh, Kak. Bukan muhrim.
            Kan sudah dikhitbah?”
            Oh... jadi selama ini Kakak menganggap Aina dan Akhid tunangan?”
            Memang seperti itu, kan?”
            Kak, tiga tahun yang lalu, Aina tidak jadi dikhitbah.”
            Kok bisa?”
Ceritanya panjang, Kak. Nanti saja Aina ceritakan setelah acara wisuda. Sekalian ada yang mau Aina sampaikan sama Kakak.”
            Baiklah, sampai nanti...! Assalamu’alaikum.
            Wa’alaikumussalam.
            Cinta yang belum terkubur sempurna perlahan muncul kembali ke permukaan. Aku sudah tak sabar ingin pergi ke kampus. Aku ingin segera diwisuda. Wisuda sarjana dan wisuda cinta. Tak lama lagi, aku akan menjadi sarjana: Sarjana Agama dan Sarjana Cinta!
───☼    ☼───
            Hari ini sungguh berkesan. Hari ini akau telah diwisuda, hari ini aku resmi menjadi sarjana. Saat ini sungguh menyenangkan. Duduk di tengah taman kampus yang indah, dikelilingi bunga-bunga yang indah, sambil menunggu bunga terindah: Aina Nurul Agnia.
            Kami berjanji untuk bertemu di sini, hari ini, di tempat ini. Setelah acara wisuda, di saat senja. Keindahan taman semakin menjadi, tatkala mobil sedan hitam mengkilat berkelok-kelok berbelok ke kanan dan ke kiri menyusuru jalan taman yang berliku. Mobil mungil nan cantik itu, kian mendekati tempat dudukku. Tepat di hadapanku, mobol itu berhenti. Dan... dari mobil mungil nan cantik itu, keluar makhluk yang sangat cantik.
            Kali ini, tak hanya hatiku yang bergetar. Jiwaku, pikiranku dan perasaanku bergetar. Tanganku, lututku, dan kakiku bergetar. Semuanya bergetrar
            Aina... Oh... Aina. Kenapa setiap kali aku melihatmu, aku salah tingkah? Cinta. Ya, Cinta. Apa lagi namanya kalau bukan cinta?
            Assalamu’alaikum.” Aina mengucapkan salam. Aku semakin gugup, salah tingkah, tak bisa menguasai keadaan.
            Wa’alaikumussalam.” Jawabku dingin, berusaha mengontrol emosi. Oh, ia. Selamat atas wisudanya!”
            Terimakasih, Kak. Sama-sama.”
            Dik Aina, sendirian?”
            Nggak. Aina di antar. Tuh…!” jawab Aina sambil menunjuk seseorang yang duduk di dalam mobil mungil, tepat di tempat duduk sopir.
            Katanya, ada yang mau disampaikan?”
            Ia, Kak. Ada dua yang mau Aina sampaikan. Pertama, masalah Akhid. Tiga tahun yang lalu, Aina tak jadi dikhitbah oleh Akhid.”
            Terus, waktu di telepon setelah shubuh?”
            Ia, sebelumnya seperti itu. Malah, Akhid dan orang tuanya sudah datang ke rumah. Tapi bukan untruk melamar. Hanya silaturahmi. Setelah Akhid memikirkan dan mempertimbangkan akibat kalau kami jadi tunangan, akhirnya Akhid memutuskan tunangan tidak dilaksanakan.”
            Sontak, hatiku berbunga, bahagia. Jika Aina adalah bagian dari tulang rusuk kiri Kakak yang hilang, pasti kita akan bersatu. Karena kalau jodoh, tak akan ke mana.” Ucapan Aina tiga tahun yang lalu, kembali terngiang di telinga.
            Kedua…” Sambil membuka tas tangannya, Aina melanjutkan. Tak lama berselang, sambil memberikan kertas berwarna pink yang dibungkus plastik dari dalam tasnya, Aina berkata: Ini.”
            Setelah kuterima, kubuka plastiknya, lalu kubaca: Undangan Pernikahan Aina Nurul Agnia, S.Th.I dan Rahman Fauzan Zaman, M.Pd.
            Membaca surat undangan itu, hatiku hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Di tengah hancurnya hatiku, fatwa cinta Ibnu ‘Athaillah terngiang di telingaku:
Laisal muhib alladzii yarjuu min mahbuubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta sejati namanya kalau ia mengharapkan imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya. Pencinta sejati adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan memperoleh sesuatau darinya.”
───☼    ☼───


[1] Bahasa Arab, artinya: Kekasihku.