Fatwa
Cinta Ibnu ‘Athaillah
Tiga
tahun yang lalu…
Tidididit…
Tidididit… Tidididit… Tidididit… Tidididit…
Jam alarm terus berbunyi tanpa
henti. Kulihat, pukul tiga. Di luar, hujan turun dengan lebat. Cahaya kilat
disusul gelegar petir mengurungkan niat, membuyarkan tekad yang belum sempat
bulat sempurna untuk sekedar menyingkap selimut tebal, turun dari tempat tidur,
mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat malam. Yang ada, selimut semakin
membalut, menutup rapat seluruh bagian tubuh dari ujung kaki sampai ujung
kepala.
Tidididit… Tidididit… Tidididit…
tidd!
Alarm masih berbunyi, tapi tak
kubiarkan terus berbunyi. Trek, aku matikan. Kutenggelamkan kembali tangan dan
kepalaku yang sempat keluar, ke dalam selimut tebal. Aku kembali terlelap.
Kring… kring…
Tak selang berapa lama, sebuah suara
kembali membangunkan tidurku. Tapi kali ini bunyinya berbeda. Bukan bunyi
tidididit tanpa henti, tapi hanya kring dua kali. Kring dua kali, itu adalah nada dering handphone-ku
pertanda SMS masuk. Kuraih handphone-ku yang disimpan di atas meja tepat
di samping kiri tempat tidurku.
Dengan
mata yang belum terbuka sempurna, tuts kiri atas handphone, kupijit
dengan tangan kananku. Dan… bagaikan tersengat aliran listrik 240 volt, mataku
terbelalak, selimutku tersingkap, posisiku duduk, aku terkejut. SMS kubaca
sekali lagi. Huruf demi huruf, kata demi klata, kalimat demi kalimat, kubaca
tanpa terlewat. Isinya tetap saama, tidak berubah.
Assalamualaikum…
Akhi
gmn pndpt antum klo ana melamar Aina hari ini?
Syukron…!
Membaca SMS itu, hatiku hancur. Tak
peduli hujan, tak peduli kilat, tak peduli petir, tak peduli semuanya. Tak
peduli ngantuk, tak peduli dingin, dan sebagainya. Aku keluar kamar, mengambil
air wudlu. Aku ingin segera mengadu.
Ya Rabbi… hanya kepada-Mu lah aku
menyembah, dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan. Duhai Dzat pencipta
cinta, tunjukkan lah aku ke jalan yang lurus.
Delapan rakaat tahjud, plus tiga
rakaat witir selesai aku kerjakan. Ketika bermunajat, pikiranku terbang,
melayang ke masa lalu, tepatnya satu tahun yang lalu.
───☼ ♠ ☼───
Kring… kring…
“SMS dari siapa, akhi? Kok bacanya
senyum-senyum seperti itu?”
“Ah nggak, Cuma SMS biasa
saja. SMS dari teman.”
“Teman, apa teman?”
“Teman.”
“
Ha…ha…ha…” kami berdua tertawa.
Kring… kring…
“Tuh kan, SMS lagi. Dari siapa sih?
jadi penasaran. Coba lihat.”
SMS belum sempat kubuka, secepat
kilat, hp diambil paksa.
“Emmmh… pantas saja dari tadi
senyum-senyum terus, ternyata lagi SMS-an sama akhwat. Ini, belum dibaca
kok. Ana gak berhak.” Belum sempat membuka SMS-nya, ia memberikan lagi handphoneku.
Alhamdulillah ya kak, kita bisa
sekampus.
Ain seneng banget bisa sekampus sama
kakak.
Syukron ya, kak, udah bantu Ain masuk kampus ini.
“ Siapapa dia? Pacar antum ya?”
“Husss,
Jangan sembarangan! Dia teman satu daerah ana.”
“Oh,
begitu? SMS apa dia?”
“Nih.” Aku memberikan SMS Aina.
“Emmmh… jadi teman antum itu
sekampus juga ya dengan kita? Jurusan apa?”
“Tafsir Hadis.”
“Masya Allah… sejurusan dong
sama ana? Ana kan jurusan Tafsir Hadis juga.”
“Ia, sejurusan sama antum.
Awas ya, nitip. Jangan diapa-apain!”
“Ha…ha…ha…” kami berdua tertawa
lagi.
───☼ ♠ ☼───
Mengingat itu semua, hatiku ingin
berontak, tapi apa daya aku tak kuasa. Kenangan awal masuk kuliah mulai meneror
batinku. Walhasil, hatiku, jiwaku, dan perasaanku terteror. Otakku,
akalku dan pikiranku terteror. Semuanya terteror. Dan pelaku teror semua itu
tak lain dan tak bukan adalah temanku sendiri: Akhid, namanya. Aku terteror SMS
Akhid. Akhid menjelma menjadi teroris cintaku.
Waktu awal masuk kuliah, Akhid
adalah satu dari tiga sahabat baru terbaikku. Layaknya sahabat, aku selalu berbagi
dengannya. Berbagi kisah, berbagi cerita.
Masih terpatri dalam hati, tercatat
dalam ingatan ketika Akhid bercerita bahwa tak lama lagi dia akan melamar calon
isteri pilihan ibunya. Karena memang, secara finansial, dia telah siap untuk
menikah.
Tak mau kalah, aku pun bercerita tentang pujaan hatiku:
Aina. Akhid ikut bahagia dan setengah tak percaya kalau Aina adalah teman
kecilku yang sama-sama denganku menaruh cinta terpendam selama bertahun-tahun
yang tak pernah terungkapkan. Sampai akhirnya kami mengetahui perasaan
masing-masing, meski tak diungkapkan dengan pacaran seperti orang-orang
kebanyakan. “Mungkin tiga atau empat tahun lagi, setelah lulus kuliah, aku akan
melamarnya.” Ceritaku pada Akhid.
───☼ ♠ ☼───
Kubaca
SMS sekali lagi. Tiba-tiba, tanpa disengaja, dengan konektifitas saraf otak
yang luar biasa, aku teringat surat Aina. Surat yang Aina berikan dua minggu
yang lalu.
“Mungkin
saja SMS Akhid ada hubungannya dengan surat dari Aina. Tapi, apakah mungkin
Akhid orang yang dimaksud Aina dalam surat itu?” prediksiku berspekulasi.
|
Assalamualaikum....
Bismillaah...
Guru cinta,
yang sekali pun tak pernah menodai cinta, apalagi mengkhianati cinta, yang
menjadi kekasih Dzat pencipta cinta, Rasulullah Saw., pernah bersabda: Tujuh
golongan yang oleh Allah akan diberi perlindungan ketika tak ada perlindungan
kecuali perlindungan Allah. Salah satu dari tujuh golongan itu adalah dua
hamba Allah yang saling mencintai di jalan Allah. Berekumpul karena Allah,
dan berpisah karena Allah.
Kak,
sebelumnya Aina minta maaf, kalau kedatangan surat ini menyakiti hati kakak.
Tapi apa boleh buat, Aina tak berdaya. Aina hanyalah seorang wanita lemah
yang mencoba untuk kuat, tapi tetap lemah. Aina yakin, Allah telah mempersiapkan
yang terbaik untuk kita berdua.
Kak, masih
ingat komitmen kita? Setelah lulus kuliah nanti, kakak akan melamar Aina.
Sungguh, Aina terharu. Aina seakan telah menggapai mimpi yang Aina damba.
Aina sangat bahagia. Tapi inilah Aiana. Seorang wanita lemah yang mencoba
untuk kuat, tapi tetap lemah.
Kemarin, Ayah menelepon. Katanya ada yang mau ta’aruf dengan
Aina. Kalau cocok, akan mengkhitbah Aina. Aina tak tahu siapa orangnya. Tapi
kata Ayah, dia anak teman Ayah. Dia juga katanya kuliah di kampus yang sama dengan
kita. Jurusan Tafsir Hadis, satu jurusan dengan Aina.
Aina tak
punya pilihan, kecuali laki-laki pilihan hati Aina, menemui orang tua Aina
untuk mengkhitbah Aina. Seperti itulah pilihan yang diberikan Ayah. Ayah
sudah tua. Sudah saatnya Ayah mencari pengganti yang akan meneruskan
perjunagan menegakkan kalimah Allah, melanjutkan memimpin pesantren.
Aina
mengirim surat ini pada kakak, dengan harapan kakak bisa mengerti perasaan Aina.
NB: Ta’aruf masih seminggu lagi. Kalau cocok,
dilanjutkan dengan khitbah minggu berikutnya. Mengambil kesempatan, atau
mempersilakan?
|
“Assalamualaikum…
Akhi gmn pndpt antum klo ana
melamar Aina hari ini?
Syukron…!”
“Aina tak tahu
siapa orangnya. Tapi kata Abi, dia anak teman Abi. Dia juga katanya kuliah di
kampus yang sama dengan kita. Jurusan Kependidikan Islam, satu jurusan dengan
Aina.”
SMS dari Akhid dan
surat dari Aina silih berganti berkelebat di pikiranku. Aku berpikir sejenak.
Dua minggu yang lalu, dengan suratnya, Aina memberi tahu ada yang mau ta’aruf
dengannya. Pagi ini, jam tiga, dengan SMS-nya Akhid memberi tahu bahwa ia
akan melamar Aina.
“Ta’aruf masih
seminggu lagi. Kalau cocok, dilanjutkan dengan khitbah minggu berikutnya.
Mengambil kesempatan, atau mempersilakan?” Kalimat akhir
pada surat Aina.
Dari surat ke ta’aruf,
satu minggu. Ditambah dari ta’aruf ke khitbah, satu minggu.
Jadi dua minggu. Dua minggu dari surat, berarti hari ini. Ya, hari ini. Hari
ini Akhid akan mengkhitbah Aina. Akhid akan melamar Aina
Yaa... Rabbi... apa
yang harus hamba-Mu ini lakukan?
───☼ ♠ ☼───
Pagi harinya, untuk sekedar memastikan, setelah shalat
shubuh, tepatnya jam lima lewat sepuluh, aku menelepon Aina.
Kuambil handphone yang masih tergeletak di atas
tempat tidur. Kuaktifkan kunci tombol, kucari nomor bertuliskan Habibi[1]
Nurul Agnia. Setelah ketemu, kutekan tombol “ok”, lalu panggil. Tak lama
berselang…
“Assalamualaikum... ” suara
lembut dari sebrang sana. Tanpa sadar, hatiku berdesir. Kujawab,
“Wa’alaikumussalam.
Ini… ini dengan Dik Aina, ya?” tanyaku
basa-basi.
“Ia. Ada apa, kak?”
“Ah nggak” jawabku tergugup. “Cuma mau
bertanya. Kalau benar,
sekalian member selamat.” Sambungku yang sudah mulai menguasai keadaan.
“Maksud Kakak?” Tanya Aina sedikit
bingung, tidak mengerti.
“Apa benar, hari ini Dik Aina akan
dilamar?” tanpa basa-basi ini itu, aku langsung ke pokok permasalahan.
Sesaat lamanya, tak ada suara. Hening, tanpa kata, diam seribu bahasa. Tiba-tiba, dengan
suara teisak dan sedikit serak, Aina berkata:
“I…ia, Kak.”
Bagaikan mendengar petir di siang
bolong, aku tersentak kaget. “Akhid…!” pekikku dalam hati. Tapi akuy segera
tersadar. Dilihat dari segi apa pun, Akhid jauh lebih siap dibandingkan
denganku yang masih butuh dua sampai tiga tahun lagi untuk siap. Dengan ketegaran yang ditegar-tegarkan, mau tak mau,
ucapan selamat harus kuucapkan.
“Selamat ya,
Dik. Semoga bahagia.”
Dengan
suara terisak serak diiringi tangisan menyayat hati, Aina berkata:
“Maafkan Aina,
Kak. Aina tak bisa memegang komitmen yang telah kita sepakati bersama. Aina
telah berusaha. Tapi inilah Aina. Wanita lemah yang mencoba untuk kuat, tapi
tetap lemah.“
“Sudahlah, Dik!
Yang penting, Dik Aina bahagia. Apa pun yang membuat Dik Aina bahagia, selagi
mampu, insya Allah akan Kakak lakukan. Adik juga pasti masih ingat
perkataan Syaikh Ibnu ‚Athaillah Assakandary waktu kita masih nyantri pada Kiai
Hamdi. Syaikh Ibnu ‚Athaillah dalam kitab Al-Hikamnya mengatakan: ‘Laisal
muhib alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal
muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta
sejati namanya kalau ia mengharapkan imbalan dari orang yang dicintainya, atau
menuntut sesuatu dari kekasihnya. Pencinta sejati adalah orang yang bermurah
hati memberi pada kekasihnya, bukan memperoleh sesuatau darinya.’ ”
“Ia, Kak. Terimakasih.
Semoga Allah mewmberikan yang terbaik untuk kita. Dan, jika Aina adalah bagian
dari tulang rusuk kiri Kakak yang hilang, pasti kita akan bersatu. Karena kalau
jodoh, tak akan ke mana. Mari kita serahkan semuanya pada Allah. Sungguh, tak
ada tempat berserah diri selain kepada Allah. ”
Kata-kata
yang diucapkan Aina, bagai penyejuk bagi luka yang menganaga. Tapi ntetap, air
mataku meleleh. Aku tak ingin menangis, tapi aku tak bisa membendung air
mataku. Kata-katanya sungguh menyentuh hati dan segenap relung-relung jiwaku.
“Assalamualaikum.” Aku mengakhiri pembicaraan. Tanpa menunggu
jawaban salam dari Aina, klik, telepon aku matikan.
───☼ ♠ ☼───
Pagi
ini, sungguh cerah. Aku merasa, dari ufuk timur, dengan cahayanya, mentari pagi
seolah tak hanya mengucapkan selamat pagi, tapi selamat yang lain. Dari
ranting-ranting pohon, dengan kicauannya, burung-burung seolah tak hanya
mengucapkan selamat pagi, tapi selamat yang lain. Dari peredarannya, dengan
hembusannya, udara pagi yang sejuk seolah tak hanya mengucapkan selamat pagi,
tapi selamat yang lain.
Ya,
selamat pagi dan selamat wisuda!
Hari
ini, aku akan diwisuda. Tak lama lagi, sarjana agama bertambah anggota: aku dan
teman-teman seangkatanku. Gina, Fitri, Rina, Citra dan yang lainnya. Angga, Yahya,
Aina serta Akhid dan teman-teman seangkatan lainnya.
Aina...
Ooh... Aina. Kenapa setiap kali aku teringat namamu, hatiku bergetar begitu
hebat? Cinta. Ya, cinta. Apa lagi namanya kalau bukan cinta?
Akhid...
Owh... Akhid. Kenapa setiap kali aku teringat namamu, hatiku bergemuruh begitu
hebat?
“Laisal
muhib alladzii yarjuu min mahbuubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal
muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta sejati namanya kalau ia mengharapkan
imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya.
Pencinta sejati adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan
memperoleh sesuatau darinya.”
Kata-kata
hikmah Syaikh Ibnu ‚Athaillah yang aku ucapkan pada Aina tiga tahun yang lalu,
tiba-tiba terngiang di telingaku. Ya, tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku
tak pernah menghubunginya lagi.
Pagi
ini, setelah tiga tahun tak ada kabar tentang Aina, aku tak kuasa untuk menahan
tanganku untuk mengambil handphone dan mengaktifkan kunci tombol.
Setelah aktif, kucari nomor bertuliskan Aina Nurul Agnia―Bukan Habibi Nurul
Agnia, seperti dulu― setelah ketemu, kutekan tombol ok, lalu panggil.
“Assalamu’alaikum Nona Sarjana...!“ aku
mengawali pembicaraan di telepon, dengan sedikit gurauan.
“Wa’alaikumussalam. Ah, Kakak. Biasa aja!” oh ia, apa kabar?
“Alhamdulillah, sehat. Bagaimana sudah siap untuk acara wisuda?”
“sudah, Kak.
Ini juga baru mau berangkat. Kakak sendiri sudah siap?”
“kakak juga
sudah siap. Tapi tidak sesiap Dik Aina, pastinya.”
“Maksud Kakak? ”
“Kakak belum
ada PW, alias Pendamping Wisuda, he...“ jawabku melucu, ringan, tanpa beban.
„Kalau Akhid bagaimana? Mau berangkat bareng nggak?” aku bercanda di balik rasa ingin tahuku tentang hubungan
mereka.
“Hus...! Kakak
ini bicara apa? Nggak boleh, Kak.
Bukan muhrim. ”
“Kan sudah
dikhitbah?”
“Oh... jadi
selama ini Kakak menganggap Aina dan Akhid tunangan?”
“Memang seperti
itu, kan?”
“Kak, tiga
tahun yang lalu, Aina tidak jadi dikhitbah.”
“Kok bisa?”
“Ceritanya
panjang, Kak. Nanti saja Aina ceritakan setelah acara wisuda. Sekalian ada yang
mau Aina sampaikan sama Kakak.”
“Baiklah,
sampai nanti...! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Cinta
yang belum terkubur sempurna perlahan muncul kembali ke permukaan. Aku sudah tak
sabar ingin pergi ke kampus. Aku ingin segera diwisuda. Wisuda sarjana dan
wisuda cinta. Tak lama lagi, aku akan menjadi sarjana: Sarjana Agama dan
Sarjana Cinta!
───☼ ♠ ☼───
Hari ini
sungguh berkesan. Hari ini akau telah diwisuda, hari ini aku resmi menjadi
sarjana. Saat ini sungguh menyenangkan. Duduk di tengah taman kampus yang
indah, dikelilingi bunga-bunga yang indah, sambil menunggu bunga terindah: Aina
Nurul Agnia.
Kami
berjanji untuk bertemu di sini, hari ini, di tempat ini. Setelah acara wisuda,
di saat senja. Keindahan taman semakin menjadi, tatkala mobil sedan hitam
mengkilat berkelok-kelok berbelok ke kanan dan ke kiri menyusuru jalan taman
yang berliku. Mobil mungil nan cantik itu, kian mendekati tempat dudukku. Tepat
di hadapanku, mobol itu berhenti. Dan... dari mobil mungil nan cantik itu,
keluar makhluk yang sangat cantik.
Kali
ini, tak hanya hatiku yang bergetar. Jiwaku, pikiranku dan perasaanku bergetar.
Tanganku, lututku, dan kakiku bergetar. Semuanya bergetrar
Aina...
Oh... Aina. Kenapa setiap kali aku melihatmu, aku salah tingkah? Cinta. Ya,
Cinta. Apa lagi namanya kalau bukan cinta?
“Assalamu’alaikum.”
Aina mengucapkan salam. Aku semakin gugup, salah tingkah, tak bisa menguasai
keadaan.
“Wa’alaikumussalam.”
Jawabku
dingin, berusaha mengontrol emosi. “Oh,
ia. Selamat atas wisudanya!”
“Terimakasih, Kak. Sama-sama.”
“Dik Aina, sendirian?”
“Nggak.
Aina
di antar. Tuh…!” jawab Aina sambil menunjuk seseorang yang duduk di dalam mobil
mungil, tepat di tempat duduk sopir.
“Katanya, ada yang mau disampaikan?”
“Ia, Kak. Ada dua yang mau Aina
sampaikan. Pertama, masalah Akhid. Tiga tahun yang lalu, Aina tak jadi
dikhitbah oleh Akhid.”
“Terus, waktu di telepon setelah shubuh?”
“Ia, sebelumnya seperti itu. Malah, Akhid
dan orang tuanya sudah datang ke rumah. Tapi bukan untruk melamar. Hanya
silaturahmi. Setelah Akhid memikirkan dan mempertimbangkan akibat kalau kami
jadi tunangan, akhirnya Akhid memutuskan tunangan tidak dilaksanakan.”
Sontak, hatiku berbunga, bahagia. “Jika Aina
adalah bagian dari tulang rusuk kiri Kakak yang hilang, pasti kita akan
bersatu. Karena kalau jodoh, tak akan ke mana.” Ucapan Aina
tiga tahun yang lalu, kembali terngiang di telinga.
“Kedua…” Sambil membuka tas tangannya,
Aina melanjutkan. Tak lama berselang, sambil memberikan kertas berwarna pink yang dibungkus plastik dari dalam
tasnya, Aina berkata: “Ini.”
Setelah kuterima, kubuka plastiknya,
lalu kubaca: Undangan Pernikahan Aina
Nurul Agnia, S.Th.I dan Rahman Fauzan Zaman, M.Pd.
Membaca
surat undangan itu, hatiku hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Di tengah
hancurnya hatiku, fatwa cinta Ibnu ‘Athaillah terngiang di telingaku:
“Laisal
muhib alladzii yarjuu min mahbuubihi ‘iwadhan au yathlubu minhu gharadhan. Fainnal
muhib man yabdzulu lak, Laisal muhib man tabdzulu lah. Bukanlah pencinta sejati namanya kalau ia mengharapkan
imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya.
Pencinta sejati adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan
memperoleh sesuatau darinya.”
───☼ ♠ ☼───